El Nino, Perubahan Iklim dan Teror Kerentanan Pangan, Salah Siapa?

Rasanya, ada satu yang luput dalam naskah pidato kenegaran yang saya kagumi tempo hari. Memang kesempurnaan hanya milik Yang Maha Sempurna, Tuhan YME. Yang luput, atau bisa saja saya kelewat baca yakni tentang tantangan global ke depan berkaitan dengan pangan, energi dan sumber daya air.

Kalau gak salah naskah itu masih dominan menyoroti terkait situasi global yang berkaitan dengan ekonomi dan transformasi teknologiinformasi. Yang digambarkan sangat mencemaskan bagi saya orang awam. Jika kita tidak siap atau gagap.

Memori saya justru tertuju pada apa yang disampaikan pak Prabowo Subianto saat debat pilpres April lalu. Maaf bukan membanding-bandingkan. Karena saya bukan cebong atau kampret. Saya manusia.

Bahwa Indonesia harus mampu mewujudkan kemandirian di bidang pangan, energi, dan sumber daya air. Begitu Prabowo sampaikan dengan gayanya yang khas. Berapi api. Harus diakui, itulah fakta. Bahwa masalah energi, pangan dan air akan menjadi tatangan global ke depan. Artinya, jadi PR bersama negara negara di dunia. Jadi masalah trans-nasional.

Masalah ketiganya dipicu oleh Perubahan iklim dan lingkungan global. Sayang, manusia manusia yang cenderung antroposentris tak sadar bahkan tak mau peduli.

BMKG telah merilis dampak el-nino yang akan memicu bencana kekeringan di berbagai daerah. Tentu masalah kekeringan akan memicu terhadap kerentanan pangan nasional. Singkatnya pangan, energi dan air sebenarnya satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Mari kita urai satu satu.

Global warming yang picu perubahan iklim. Juga dipicu oleh peningkatan emisi karbon di atmosfer ini yang menyebabkan efek rumah kaca. Suhu bumi naik, picu kekeringan, picu krisis air, dan akhirnya mengancam produktivitas sektor berbasis pangan. Begitu siklus sederhananya.

Indonesia hingga saat ini belum mandiri dalam hal energi baru dan terbarukan. Sekitar 80% masih mengandalkan bahan bakar fosil. Dinilai lebih murah dan efisien. Itu menurut dimensi ekonomi. Padahal jika bicara sustainable development, kita akan bicara equity of dimension. Maka makna efisien akan berubah. Yakni input kecil, produktivitas naik, output limbah minim dan kualitas lingkungan terjaga.

Tapi Pemerintah tengah mendorong energi alternatif yakni biofuel. Yang lebih ramah lingkungan. Saat ini telah B30. Targetnya B100. Namun, andalannya dari produksi sawit. Mungkin dinilai paling ekonomis. Tapi kebijakan ini, pasti dinilai kontraproduktif oleh para pemerhati lingkungan. Sawit rakus air. Pun saya, menilai begitu.

Disisi lain, deforestasi konon begitu cepat, dimana didominasi oleh alih fiungsi lahan untuk industri kebun sawit. Tak ada yang salah jika pertimbanganya tetep satu. Kepentingan ekonomi. Urusan masa depan bumi lain urusan. Atau biar jadi tanggungjawab Tuhan saja. Mungkin demikian.

Krisis air. Mulai melanda. Pun kampung saya, yang dulu terkenal hijau dan kaya sumber daya air. Saat ini jadi korban. Orang harus ngantri cari sumber air. Salah siapa? Perlu kita merenung di sepertiga malam.

Kekeringan tentu dipicu deforestasi. Catchment area sudah hilang fungsinya. Emisi karbon meningkat, suhu bumi naik picu evaporasi tinggi. Dampak semakin parah. Sekarang, rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan. Dengan berbagai pertimbangan. Yang katanya kajiannya sudah sangat mendalam. Tapi rasanya tak terdengar, adanya pertimbangan yang berkaitan dengan tantangan global tadi. Perubahan iklim.

Saya tidak tahu, mungkin masalah ini dianggap micro problem. Padahal bicara lingkungan, hakekatnya bicara nasib seluruh makluk bumi. Ekosistem bumi. Maka, penting kajian melibatkan para pakar lingkungan.

Tapi pakar yang punya jiwa enviromental ethic. Bahkan kalo bisa yang militan. Ekologi radikal. Biar ada perdebatan panjang dan dalam. Kalimantan adalah paru paru bumi. Saya orang awam hanya khawatir, pemindahan ibu kota akan memicu deforestasi besar besaran itu. Sehingga paru paru itu terinfeksi kronis.

Pohon kategori tinggi memiliki daya serap CO2 mencapai 569 ton/ha/tahun. Konon kata pak Menteri ATR yang dikutip di media online, menyebut, bahwa rencana pemindahan ibu kota (termasuk pengembangan semua saran dan prasarana pendukung) membutuhkan lahan sekitar 300.000 ha.

Artinya, potensi serapan karbon yang hilang bisa mencapai 170 juta ton/ha/th. Belum lagi kalau dihitung potensi deforestasi akibat alih fungsi lain untuk kegiatan bisnis dan lainnya, sebagai impact dari keberadaannya. Lalu, berapa environmental value yang hilang?

Artinya kita hebat mampu menyumbang tambahan emisi karbon lebih besar lagi. Dan, global warming semakin tak terkendali. Tapi semoga saja sudah diantisipasi. Jika ada yang berfikir ke arah situ. Mudah mudahan.

Kesimpulannya. Fenomena el- nino sebenarnya hal biasa dan rutin terjadi. Menjadi luar biasa, bahkan ancaman manakala lingkungan semakin rentan akibat daya dukung yang menurun drastis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *