Residu Pestisida

Residu pestisida adalah pestisida yang masih tersisa pada bahan pangan setelah di aplikasikan ke tanaman pertanian. Tingkat residu pada bahan pangan umumnya diawasi dan ditetapkan batas amannya oleh lembaga yang berwenang di berbagai negara. Paparan populasi secara umum dari residu ini lebih sering terjadi melalui konsumsi bahan pangan yang ditanam dengan perlakuan pestisida, ditanam atau diproses di tempat yang dekat dengan area berpestisida.

Banyak dari residu pestisida ini merupakan pestisida sintetik berbahan dasar klor yang menunjukan sifat bioakumulasi yang dapat terkumpul dan menumpuk di dalam tubuh dan lingkungan hingga pada jumlah yang membahayakan. Senyawa kimiawi yang persisten dapat terakumulasi di dalam rantai makanan tanpa terurai, dan telah terdeteksi di berbagai produk hewan mulai dari daging sapi, daging ayam, telur ayam, dan daging ikan

Pestisida adalah zat atau campuran zat yang digunakan untuk membunuh hama, organisme yang merugikan tanaman pertanian dan hewan ternak. Istilah ini berlaku pada berbagai pestisida yang spesifik seperti insektisida, herbisida, nematisida, algasida, fungisida, dan rodentisida. Penerapan pestisida pada tanaman pertanian dapat meninggalkan residu pada tanaman bahkan setelah dipanen dan menjadi bahan pangan yang sidap dijual. Beberapa pestisida dikategorikan sebagai zat yang memiliki dampak toksikologi yang signifikan.

Sejak perang dunia kedua berakhir, pestisida kimia menjadi komoditas penting dalam menanggulangi hama. Terdapat dua kategori utama pestisida ketika itu, yaitu pestisida generasi pertama dan pestisida generasi kedua. Generas pertama yang dikembangkan sebelum tahun 1940, terdiri dari senyawa arsenik, raksa, dan timbal. Kesemuanya lalu ditinggalkan karena terbukti sangat beracun dan tidak efektif. Generasi kedua yang terdiri dari senyawa organik sintetik. Pertumbuhan pestisida generasi kedua terpacu pada akhir tahun 1940an setelah Paul Müller menemukan DDT pada tahun 1939. Efek dari berbagai senyawa seperti aldrin, dieldrin, endrin, chlordane, parathion, captan dan 2,4-D juga ditemukan pada saat itu dan mulai digunakan sebagai pestisida. Semua pestisida tersebut digunakan karena mampu mengendalikan hama secara efektif. Namun pada tahun 1946, masyarakat mulai melawan persebaran pestisida, terutama DDT, karena menyakiti tanaman dan hewan non-target. Masyarakat menjadi sadar mengenai residu dan kemungkinan dampaknya bagi kesehatan. Pada tahun 1960an, menulis buku Silent Spring (Musim Semi Sunyi) yang menggambarkan risiko dari DDT dan bagaimana hal tersebut mengancam keanekaragaman hayati.

Paparan pestisida dapat menyebabkan dua jenis dampak bagi kesehatan, yaitu efek akut yang bersifak jangka pendek, dan efek kronis yang bersifat jangka panjang. Seberapa parah dampak kesehatan ini ditentukan oleh beberapa faktor seperti dosis, jalur paparan, kerentanan genetika seseorang, usia ketika terpapar kondisi kesehatan umum penderita, durasi paparan, faktur lingkungan, dan penyerapan bersamaan dengan bahan kimia lain melalui faktor lainnya.

Gejala yang mungkin terjadi pada paparan pestisida jangka panjang yaitu:

  • peningkatan risiko kanker
  • kerusakan saraf (misal penyakit Parkinson)
  • gangguan perkembangan
  • gangguan reproduksi
  • kerusakan organ tubuh
  • intrusi ke sistem hormon

Berbagai pestisida membunuh hama dengan mengganggu sistem saraf. Karena kesamaan sifat biokimia sistem saraf di antara berbagai organisme, terdapat spekulasi bahwa bahan kimia ini juga memiliki dampak negatif bagi manusia. Juga terdapat studi yang menunjukan korelasi positif antara paparan pestisida melalui bahaya pekerjaan yang kemungkinan lebih besar menelan lebih banyak dibandingkan populasi manusia secara umum, dengan keberadaan berbagai jenis kanker. Meski sebagian besar populasi tidak akan terpapar sejumlah besar pestisida, berbagai residu pestisida yang menempel pada bahan pangan cenderung bersifat lipofilia (menempel pada jaringan lemak, lipo= lemak) dan dapat terakumulasi di dalam tubuh.

Di sisi ain, penggunaan pestisida telah terbukti menjadi bahan yang ampuh dalam melawan berbagai vektor penular penyakit yang mampu menularkan ke jutaan anak-anak setiap tahunnya. Mereka digunakan di berbagai negara berkembang untuk mencegah persebaran penyakit malaria, leishmania, DBD, dan ensefalitis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *