Teknologi Kultur Jaringan Menjadi Pedang Bermata Dua?

Hai, Apa kabar? Sebelum kalian membaca artikel ini, apakah kalian tahu arti Teknologi Kultur Jaringan itu apa? Apa dampak jika mengambil gen plasma nutfah negara lain? Simak Penjelasannya, ya!

Jadi, Kultur Jaringan sendiri artinya adalah adalah teknik perbanyakan dengan cara mengisolasi bagiannya kemudian menumbuhkannya pada media buatan yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh (hormon) secara aseptik (steril), dalam wadah tertutup yang tembus cahaya (misalnya botol — botol kaca), pada suhu tertentu. Ada tiga hal pokok yang mendasari tehnik ini yaitu pertama, sel suatu organisme multiseluler dimanapun letaknya sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (setiap sel berasal dari satu sel).

Yang kedua, teori totipotensi sel (total genetik potensial), artinya setiap sel mempunyai potensi genetik seperti zigot, yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi sellengkap. Yang ketiga, pada sel asli masih terdapat sel / jaringan yang belum berdiferensiasi yaitu jaringan meristem dan jaringan dasar (parenkim) yang masih aktif membelah. Sampai sini, paham?

Siapa sih yang awalnya mencetuskan teknologi ini? Jadi pada tahun 1838 Scheileiden dan Schwann menjelaskan teori totipotensi yang membahas sel sel yang bersifat otonom dan dapat beregenerasi menjadi tanaman lengkap.

Teori ini merupakan landasan dari percobaan Haberland dalam mengkultur jaringan, meskipun ia sempat gagal pada tahun 1902 hingga akhirnya pada tahun 1934 White berhasil memperbanyak tanaman tomat dengan cara vegetatif menggunakan kultur jaringan.

“Apa sih kegunaan Kultur Jaringan itu?” mungkin kalian sudah bertanya tanya daritadi. Tujuan kultur jaringan adalah memperbanyak tanaman dalam jumlah yang banyak dalam waktu singkat; menghasilkan varietas — varietas baru, memodifikasi genotipe tanaman pada kegiatan pemuliaan tanaman, mencegah penyakit tanaman agar diperoleh bibit yang bebas penyakit, serta memproduksi senyawa metabolit sekunder yang diperlukan untuk kepentingan industri atau biofarmasi.

Tehnik ini sudah banyak digunakan di berbagai wilayah karena dapat menghasilkan bibit unggul yang memiliki sifat sama dengan induknya, waktu penerapannya singkat serta tidak memakan banyak lahan dalam menerapkannya.

Hal inilah yang mendorong negara — negara maju mulai mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk mengambil gen plasma nutfah dari negara berkembang agar dapat dikembangkan di negaranya sendiri. Sebelum lanjut baca, menurut kalian pribadi, kalian setuju nggak kalau ada negara lain mengambil gen plasma nutfah dari negara berkembang, seperti negara kita?

Teknologi kultur jaringan yang menguntungkan negara — negara maju ini, mengakibatkan kerugian bagi negara — negara berkembang yang menjadi tempat pengambilan gen plasma nutfahnya. Kerugian tersebut diantaranya :

* Penggunaan teknik kultur jaringan dapat mengurangi atau menutup kesempatan kerja karena untuk menghasilkan bibit dengan teknik kultur jaringan setara dengan 200.000 bibit per tahun per orang, artinya akan meningkatkan jumlah pengangguran pada negara berkembang tersebut.

* Kestabilan genetik yang tidak selalu dapat dipertahankan, artinya negara berkembang akan mengalami kerusakan genetik pada tanaman dan menurunkan keanekaragaman hayati di negara tersebut.

* Hilangnya varietas khas dari negara berkembang jika gen plasma nutfah dibawa dan dikultur di negara maju.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, saya sebagai salah satu warga negara berkembang Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak setuju jika negara — negara maju mengambil gen plasma nutfah dari Indonesia untuk dapat dikembangkan sendiri di negaranya. Yang mendasari saya berpendapat adalah satu, perspektif kekayaan varieatas tanaman yang ada di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *